menyayangimu adalah sebuah dilema

Standar

Cory Panggabean

Menyayangi seseorang adalah hal yang wajar. Namun menyayangimu adalah sebuah dilema bagiku…
Aku mengagumimu sejak pertama kali Anggita memperkenalkan kita. Paras elok kemerah-merahan nan imut, postur tinggi dan atlestis, otak cerdas, sikap ramahmu pada setiap orang, dan terutama kelincahan jemarimu menari di atas tuts piano yang membuatku mengagumimu.

Waktu kian berlalu. Hari ini tepat satu tahun setelah perkenalan itu. Kekaguman yang ada sejak berkenalan denganmu kini tumbuh menjadi benih-benih cinta. Dan aku berharap suatu saat menjadi pohon cinta di antara kita.
Hingga suatu hari Ricky mengirimkan sebuah pesan, Lucresia, sudah seharusnya kamu tahu bahwa aku menyayangimu. Hey, sungguh! Kalimat yang sangat indah! Pipiku pun bersemu merah.
Tapi saat itu juga aku merasakan pedih dalam hatiku. Pedih yang sangat amat dalam. Lalu mataku yang sebelumnya seperti bintang kemilauan, kini menjadi seperti air terjun.
Aku teringat sesuatu. Ya, Anggita! Anggita sudah menyayangi Ricky bahkan jauh sebelum aku mengenalnya. Aku sadar, secara tidak langsung aku mengkhianati sahabatku sendiri. Sahabatku sejak kepindahanku ke Indonesia. Dan teman hidupku setelah orangtuaku pergi meninggalkanku ke Surga.
Inilah cinta terlarang. Bukan hanya Anggita, orangtuaku pun pasti tidak akan pernah setuju jika aku menjalin hubungan dengannya karena perbedaan Agama. Aku seorang Yahudi sedang dia seorang Muslim. Sungguh menyedihkan cinta tulus nan suci tak bisa bersatu. Baiklah, Anggita. Maafkan aku mengkhianatimu. Aku berjanji akan berusaha menghilangkan perasaan itu. Bersabarlah, Ricky akan menjadi milikmu seutuhnya, ujarku dalam hati seraya berurai air mata.
Hari demi hari berlalu. Sudah tak kuat aku menahan perasaan ini. Mataku perih, menangis setiap hari. Dan Anggita, tak pernah berhenti meceritakan soal Ricky.
Pernah suatu kali aku menangis di pinggir danau dekat kampusku. Ricky melihatku. Menarikku masuk ke dalam kampus, ke ruang musik tepatnya. Ia mendorongku ke arah sebuah piano dan duduk di sampingku. Dan dengan senyum manisnya, ia menunjuk kearah partitur lagu Kiss The Rain. Lalu memberi aba-aba agar aku turut bermain dengannya. Terlihat jemari lentiknya menari-nari indah di atas tuts piano diiringi suara piano tersebut.
“Aku sering melihat kau memainkan lagu ini di ruangan ini. Aku suka lagu ini. Menyejukkan hati. Apa kau menyukainya juga?” tanyanya setelah kami selesai memainkan lagu itu.
“Eh, iya! Aku sangat menyukainya. Di acara pensi nanti aku akan membawakan lagu ini!” jawabku riang.
“Baguslah. Berlatihlah. Aku akan menyaksikan pertunjukanmu nanti!” ujarnya tersenyum seraya berjalan keluar ruang musik.
Sungguh momen yang istimewa. Tapi tekadku sudah bulat. Maaf dan terima kasih untuk semuanya.
“Anggita!” panggilku setelah keluar dari gedung kampus.
“Hey, Lucresia! Ayo, pulang!” ajak Anggita.
“Bagaimana kalau kita pergi ke café dekat Pantai Ancol? Santai sore dengan kopi plus mengobrol bersama ditemani sunsets! Ayolah!” aku menarik tangan Anggita ke dalam mobil. Kami pun pergi menuju Pantai Ancol.
Kami memilih meja di luar ruangan. Untuk menikmati sunsets. Sebenarnya tujuanku adalah menanyakan sesuatu. “Eh, Anggita, apa pendapatmu soal menyayangi seseorang?”
“Hmm.. menyayangi seseorang itu hal yang wajar. Menyayangi siapa maksudmu? Cowok maksudmu? Oke, menyayangi cowok itu sesuatu yang membahagiakan. Kayak aku menyayangi Ricky,” jelasnya. Aku mengernyitkan dahi, dan menggigit bibir. Mungkin bagimu menyayangi Ricky hal yang wajar dan membahagiakan, tapi bagiku, itu adalah sebuah dilema!
“Tapi kamu hanya dapat bahagia jika menyayangi seseorang itu dengan tulus. Dengan segenap hatimu yang paling dalam,” lanjutnya.
“Lalu apa kamu menyayangi Ricky dengan tulus? Dengan segenap hatimu yang paling dalam?” tanyaku kembali.
“Tentu saja! Ada apa? Sedang jatuh cinta yaa??” ledek Anggita.
“Ah, tidak! Hahaha..” aku menggeliat karena Anggita menggelitikiku. Sungguh bahagia memiliki sahabat seperti dia. Aku sayang dia seperti saudaraku sendiri. Sayang? Sayang, kok, main pengkhianatan? Seseorang dalam tubuhku menyindirku seperti itu. Ah, Tuhan, aku mohon, hilangkanlah perasaan sayangku pada Ricky.
Malam menjelang. Angin bertiup mulai kencang di pantai. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tuhan, aku sudah kehilangan orangtuaku. Aku tidak mau kehilangan Anggita dan Ricky juga. Aku sayang mereka. Apa yang harus aku lakukan? mataku kembali seperti air terjun. Dan sembab setelah turun dari mobil.
Aku berlari ke kamar. Mencari solusi sambil memainkan piano peninggalan ayahku yang seorang pianis terkenal di negeri asalku.
Akhirnya aku bertekad untuk kembali ke Israel setelah pensi tanggal 27 Maret nanti. Ini semua untuk kebaikan aku, Anggita dan Ricky. Mungkin aku harus kehilangan keduanya. Tapi tugasku adalah mempersatukan cinta mereka dalam satu hati. Dulu Anggita memintaku berjanji agar membantunya menjalin hubungan dengan Ricky. Tapi apa daya aku terlanjur menyayangi Ricky. Aku tidak boleh mengingkarinya!
Hari ini tanggal 26 Maret. Besok aku harus menampilkan pertunjukan paling baik di pensi. Maka aku mempersiapkan segalanya, mulai dari hairstyle, kostum, make-up, sepatu, dan tentu saja kelincahan jemariku menari di atas tuts piano.
Besok juga adalah hari terakhirku berada di Indonesia. Dan aku sudah membeli tiket pesawat menuju Israel. Waktuku di Indonesia tidak lama lagi. Maka aku mengajak Anggita mengelilingi Jakarta. Kebetulan kuliah juga sedang libur. Tidak lupa juga kubawa kameraku. Untuk berfoto bersamanya sebagai kenang-kenangan terakhir.
Kamu tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu besok adalah hari terakhirku. Maka aku ucapkan, “Anggita, kamu sahabat terbaikku. Maafin, ya, kalau aku punya salah. Dan kalau sewaktu-waktu aku pergi, relain aku, ya. Tugas aku sebentar lagi selesai buat kamu. Kamu dan Ricky akan menjadi satu.”
“Kamu ngomong apa sih? Emang kamu itu peri apa yang dikirim buat nyatuin aku sama Ricky? Kamu enggak akan pernah pergi, Lucresia. Kamu selalu di sini, di hatiku. Namamu sudah tercantum sebagai sahabat terbaikku. Aku enggak pernah nginget kesalahan kamu,” ujarnya tersenyum menghapus air mataku. Aku membalas senyumannya dan menariknya pulang.
Sampai di rumah sudah pukul 18.45. Aku kembali berlatih memainkan piano untuk pensi besok. Setelah itu, aku merasa ingin membuat surat untuk Anggita dan Ricky. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka diam-diam dengan tidak memberi kabar sedikitpun. Dan akhirnya aku mulai menulis surat.
Pagi menjelang. Kubuka mata. Detak jantungku tak beraturan. Nanti sore aku akan pergi meninggalkan Indonesia. Tinggal hitungan jam saja.
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku harus mempersiapkan semuanya. Aku harus tampil sebaik mungkin hari ini. Gaun putih dengan sekuncup bunga melati di pinggang. Aku suka gaun ini. Putih melambangkan sucinya kasih sayangku pada Anggita dan Ricky.
Aku turun dari mobil. Entah, pandangan orang-orang tertuju padaku. Nervous menyelimuti diriku. Namun aku harus tetap percaya diri.
Pensi dimulai. Namaku disebut. Maka naiklah aku ke atas panggung. Jemariku mulai memainkan lagu Kiss The Rain. Setelah selesai, tepuk tangan menyambut. Bahagia sekali rasanya.disambut tepuk tangan dari para hadirin. Dan tentunya bisa melihat tawa riang Anggita serta senyum manis Ricky. Aku sayang kalian…
Setelah turun dari panggung Ricky sambil menunjukkan videoku tadi di handphone-nya. “Kau cantik sekali siang ini. Permainanmu juga sangat baik,” pujinya. Sedangkan aku hanya tersenyum. Mengambil tasku dan memberikan sebuah kotak. Ricky mencoba membukanya.
“Jangan dibuka sebelum pukul 19.00 malam nanti!” kataku. Dan ia hanya menangguk mengiakan.
Aku menghampiri Anggita. ‘Kau keren sekali!” teriak Anggita.
“Haha.. biasa saja! Terima kasih, ya! Oh iya, ini untukmu. Bukalah nanti pukul 19.00 malam!” kataku sambil memberi kotak itu.
“Baiklah. Kau mau kemana?” tanya Anggita.
“Ada urusan. Aku harus pulang sekarang. Kau pulang sendiri ,ya?” pintaku.
“Eh, iya. Tapi, kan, belum ada pengumuman soal siapa yang menang,” jawabnya.
“Iya, aku tahu. Kalau aku menang kau ambil saja hadiahnya, ya,” ujarku.
“Baiklah..” katanya seraya memerhatikanku berjalan keluar.
Sampai di rumah, aku membereskan barang-barangku. Pergi ke bandara. Perjalanan ke Israel akan segera kutempuh. Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal negeri yang sudah mengajariku tentang banyak hal. Dan, selamat tinggal Anggita, Ricky! Aku akan sangat merindukan kalian…
Sampailah aku di Israel. Tepat pukul 19.00 jika aku di Indonesia. Aku bertanya-tanya apakah Anggita dan Ricky sudah membuka kotak itu?
Di Indonesia, Anggita membuka kotak dariku.

Dear Anggita,
Mungkin ketika kamu membuka kotak ini, aku sudah kembali ke Israel. Ini aku selipkan foto-foto kenangan kita.
Git, aku Cuma mau menyampaikan beberapa hal sama kamu.
Kalau kamu dan Ricky sudah bersatu jaga dia, ya. Jaga perasaan dia. Jangan buat dia merasa enggak enak, tapi buat dia merasa hangat, merasa bahagia.
Aku juga ingin memberitahu kamu alasanku kembali ke Israel. Kau ingat kan dua tahun yang lalu? Waktu kamu minta ke aku buat mendekatkan kamu sama Ricky? Jujur, dari awal kamu memperkenalkan Ricky sama aku, aku mulai mengagumi dia. Aku bahagia di dekat dia. Tapi aku sadar, dengan begitu aku sudah mengkhianatimu. Seharusnya aku mempersatukan kalian, bukan malah mengaguminya. Tapi sekarang tugasku sudah selesai. Sebentar lagi kalian akan bersatu. Aku akan lebih bahagia kalau kamu juga bahagia. Makanya aku enggak mau kamu lihat aku nangis. Jadi, yaa, aku lebih milih kembali ke Israel.
Oh iya, Git, aku yakin suatu saat kita bisa bertemu lagi. Entah di dunia ini atau di Surga. Tapi ingat! Aku sayang sama kamu seperti saudara sendiri. Kamu sahabat paling baik bagiku! Menemani di setiap langkahku waktu aku di Indonesia. Kamu juga mengajari banyak hal baru. Termasuk Ricky.
Udah ya! Kamu harus janji jangan pernah buang-buang air mata kamu! Kamu harus bahagia di sana sama Ricky, ya! Janji?!
Your friend,
Lucresia~

Anggita terisak. Dia tidak mengerti. Begitu besarkah sayangku padanya. Hingga aku merelakan Ricky hidup bersamanya.
Sementara Ricky, ia baru ingat membuka kotak yang berisi sebuah partitur lagu berjudul First Love karanganku sendiri yang kutujukan padanya, berserta sepucuk surat.

Dear Ricky,
Maaf aku mendadak. Aku sudah kembali ke negeri asalku. Dan aku mau menyampaikan beberapa hal. Kau baca ya!
Dengan segenap hatiku yang terdalam, aku menyayangimu. Namun aku tahu cinta kita tidak bisa bersemi di dunia ini. Tapi cintaku padamu tulus apa adanya, dan aku tahu cintamu pun tulus padaku. Aku yakin cinta kita akan bersemi nantinya. Di Surga yang abadi.
Kau pernah bilang kan, kalau kau ingin aku bahagia? Di sini aku tidak bahagia hidup tanpamu dan Anggita. Tapi aku akan bahagia jika Anggita bahagia. Bersatulah dengan Anggita. Dia menyayangimu jauh sebelum kita saling mengenal. Kumohon. Sayangi dia, cintai dia, jaga dia. Hidup bahagialah bersamanya!
Meski pedih hati ini laksana tertusuk duri paling tajam, aku akan tetap bahagia jika kami dan Anggita bahagia. Jangan lupakan aku, aku mencintaimu! Dan lagu itu kubuatkan untukmu. Mainkan dan dengarkanlah melodi cintaku padamu…
With a lots of love,
Lucresia~

Lima tahun sudah semua itu berlalu. Ricky dan Anggita sudah berkeluarga dengan seorang putri bernama Lucresia. Mereka hidup bahagia. Lalu aku? Sudah pasti aku turut bahagia!
Suatu hari mereka berkunjung ke Israel hendak menemuiku. Tapi, yang mereka temukan hanya batu nisanku. Ya, aku telah pergi ke Surga yang suci dan abadi.
“Papa, Mama, mengapa menangis? Batu nisan itu? Mengapa namanya sama denganku?” tanya Lucresia kecil.
“Dia bintang, nak. Papa dan Mama mau kamu menjadi bintang sepertinya,” ujar Anggita. Di sini aku tersenyum. Jangan menangis. Aku bahagia, kau pun harus begitu!
The End…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s